15.10.13

PKS Kudus

Hari Arafah : Sepi, Wanita Makkah Kuasai Masjidil Haram

Masjidil Haram dalam keadaan sepi dan diguyur hujan deras.













pkskudus.org—Kota suci Makkah sangat sepi pada hari Senin (14/10/2013), seiring dengan diwajibkannya seluruh jamaah haji berangkat ke Padang Arafah untuk melakukan wukuf. Itu merupakan kesempatan emas bagi wanita-wanita Makkah untuk bisa berlama-lama di Masjidil Haram.

Wanita Makkah biasa menyebut malam puncak ibadah haji 9 Dzulhijjah sebagai “malam yatim”. Pasalnya selain sepi dari jamaah, para pria nyaris tidak tampak di Masjidil Haram, sebab mereka bertugas melayani tamu-tamu Allah di Arafah dan Muzdalifah.
“Kami bergerak bebas hari ini, sebab tidak ada pria di sekitar sini. Banyak dari kami puasa pada hari Arafah, lalu berbuka puasa di dalam Masjidil Haram,” kata seorang wanita Makkah yang enggan disebutkan namanya dikutip Saudi Gazette (15/10/2013).

Seorang wanita tua penduduk Makkah, Aminah Zawwawi, menceritakan kebiasaan mereka ketika Masjidil Haram sepi dari jamaah haji dan para pria.
“Kami biasanya menikmati Makkah untuk diri kami sendiri. Kami pergi ke Masjidil Haram sebelum shalat Ashar dan tinggal di sana sampai shalat Isya. Kami juga biasanya buka puasa di dalam Masjidil Haram,” kata Aminah.
Sementara tidak ada suami, saudara laki-laki atau putra mereka, wanita Makkah biasanya bersosialisasi dengan mengunjungi kawan atau saudara.
Seusai shalat Isya, banyak perempuan Makkah yang keluar ke jalan, mereka bermain menikmati hari itu sampai larut malam.
“Ketika para perempuan itu melihat ada sosok laki-laki, mereka akan membentaknya karena tidak ikut ke Arafah untuk menjadi pelayan bagi tamu-tamu Allah,” kata Aminah.
Perempuan juga biasa memasak hidangan spesial pada hari Arafah dan membuat beraneka macam kue untuk kemudian diberikan secara cuma-cuma kepada para jamaah yang kembali ke Makkah di akhir perjalanan hajinya.
“Kami juga mengenakan pakaian istimewa dan saling bertukar hadiah saat itu,” imbuhnya.

Aminah masih ingat haji di zaman dahulu, di mana jamaah tinggal bersama mutawif (pengurus/pembimbing perjalanan haji) di rumah-rumah mereka, sebab tidak ada penginapan.

“Tidak ada hotel-hotel atau apartemen lengkap dengan perabotan ketika itu, sehingga jamaah haji harus tinggal dengan mutawif mereka, yang memberikan akomodasi dan menyediakan makanan,” paparnya.*
*http://www.hidayatullah.com/read/2013/10/15/6835/di-hari-arafah-wanita-makkah-kuasai-masjidil-haram.html

PKS Kudus

About PKS Kudus -

Humas DPD PKS Kab Kudus

Subscribe to this Blog via Email :