6.7.16

sumodisastro

Bangau Aja Mudik Masak Elu Nggak

Masih ingatkah kita akan sebuah peribahasa yang terkenal tentang sebuah Bangau? Tentunya tak akan pernah terlepas dari ingatan kita tentang peribahasa yang berisi:
“Setinggi-tingginya Bangau terbang, pasti akan kembali kesarangnya kembali.”

Sejak kecil tentunya kita sering mendapatkan kalimat tersebut sering dilontarkan oleh guru Bahasa Indonesia kita, sejak SD. Bahkan ada juga peribahasa yang sama dengan maknanya, seperti: “Setinggi-tingginya Tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Nah, terkait dengan peribahasa-peribahasa tersebut, kita akan terbiasa dengan penterjemahan ungkapan: sejauh-jauhnya orang merantau, pasti akan pulang keharibaan pula.

Seringkali perubahasa demikian ini disampaikan untuk mengingatkan kita akan kampung halaman kita. Tempat dimana kita mengalami masa kecil dan tumbuh menjadi seorang yang dewasa yang selanjutnya pergi merantau ke tempat lain. Ketika musim lebaran dengan waktu libur panjang seringkali dimanfaatkan oleh khalayak pelancong untuk kembali ke kampung halaman mereka, tak hanya sekedar mengisi waktu libur panjang tapi juga untuk merangkai tali silaturahmi yang telah lama terputus.

  Namun, tidakkah kita pernah mendalami peribahasa itu secara lebih mendalam? Sebagai peringatan bagi kita, bahwa sebagai seorang manusia yang penuh dengan keterbatasan. Meskipun kita disebut-sebut sebagai makhluk Alloh SWT yang paling sempurna diantara makhluk-Nya yang lain, namun, sesempurnanya manusia tetaplah ia masih mempunyai keterbatasan tersendiri.

  Rosulullah, yang dikatakan sebagai manusia paling sempurna, tentunya beliau mempunyai keterbatasan juga. Dan satu yang keterbatas itu dimiliki oleh semua manusia dan makhluk hidup yang lain adalah usia. Semua makhluk mempunyai batas usia. Maka, pada capaian usia tertentu, ketika ia sudah mencapai batasannya, maka ia akan di panggil oleh Yang Mahakuasa untuk menghadap.

  Oleh karena itu, sering kita saksikan bagaimana para pembuat film senantiasa menyajikan berbagai tayangan tentang seorang manusia yang berusaha mencari keabadian hidup. Dan sebenarnya hal tersebut tidak akan pernah ada di dalam dunia nyata. Karena merasa akan adanya keterbatasan inilah mereka membuat khayalan untuk bisa meraih keabadian hidup di dunia. Ini merupakan suatu kasusistik yang sebenarnya bisa kita tilik dalam salah satu ayat dalam surah Al Mu’minun 115:

  “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan pada Kami?”

 Inilah yang menjadi korelasi bahwa seekor Bangau yang sedang terbang, seberapa besarnya seseorang bisa menjadi kaya, menjadi terkenal, menjadi seorang pemimpin dunia, bahkan menjadi seorang kecil seperti seekor Tupai, maka ia pasti akan kembali kesarangnya. Ia pasti akan jatuh juga. Seoarang manusia pun akan kembali kampung halamannya. Namun, kampung halaman yang manakah ia akan kembali?

  Ya, semua orang pasti akan menemui ajalnya. Dan kemudian akan dikumpulkan kita di suatu lapangan pengadilan. Seperti yang disampaikan dalam surat Az Zilzalah:

  “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.”

  Bahkan sang Bangau pun kembali lebih tahu dari pada kita. Ia berusaha untuk terbang setinggi-tingginya mengelilingi langit untuk melihat keagungan ciptaan-Nya. Dan begitulah cara ia bersyukur kepada Alloh SWT. Ia akan mewarnai langit dengan kepakannya dan tarian gemulainya diatas awan.
  Dan begitulah Alloh SWT menciptakan kita tanpa main-main. Dia ingin manusia tahu dan paham bagaimana dunia ini diciptakan untuknya. Dan bagaimana manusia akan merawat dunia ini, disitulah pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Layaknya seekor Bangau, manusia diajarkan untuk senantiasa bersyukur akan keagungan-Nya.

  Maka, di dalam dua ayat terakhir surat Az Zilzalah:

  “Maka, barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya iaka akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Ini berarti, semua perbuatan yang kita lakukan di dunia ini akan menjadi sebuah dampak yang sangat besar bagi kita sendiri untuk selanjutnya mau dibawa kemana kita pada akhirnya. Pulang kampung ke akherat ada dua jalur pilihan, surga atau neraka?

sumodisastro

About sumodisastro -

Humas DPD PKS Kab Kudus

Subscribe to this Blog via Email :